Apakah Anda pernah berwisata ke candi
Borobudur? Sepertinya pernah, ya! Candi yang sempat masuk dalam 7
keajaiban dunia itu sangat populer di kalangan turis baik lokal
maupun mancanegara. Candi tersebut berlokasi di kota Magelang, Jawa
Tengah. Ternyata banyak fakta menarik lho tentang candi Borobudur,
apakah Anda penasaran? Nah, kali ini kami akan membagikan 6 fakta
menarik tentang candi Borobudur kepada Anda!

1. Borobudur terbuat dari 2 juta batu
vulkanik yang tersusun tanpa bahan perekat

Pernahkah Anda membayangkan candi seluas
15.129 meter persegi ini dibangun dari tumpukan batu yang disusun
tanpa menggunakan perekat? Ya, candi Borobudur tidak menggunakan
semen atau perekat apapun untuk menyatukan 2 juta batu vulkanik.
Batu-batu tersebut ditumpuk sesuai pola sehingga terbentuk candi yang
sangat besar.

Menurut sejarawan dan ahli geologi,
proses pembangunan candi Borobudur kurang lebih ada 4 tahap. Tahap
pertama adalah meratakan kontur tanah dan membuat pondasi yang
terbuat dari batuan andesit dan jenis batu lainnya. Kemudian pada
tahap kedua, dilakukan pembangunan undakan persegi, pagar langkan,
undakan melingkar, dan stupa induk yang sangat besar.

Sedangkan di tahap ketiga, stupa induk
tunggal dibongkar menjadi tiga undakan lingkaran kecil dan dibangun
pula stupa-stupa kecil secara melingkar. Lalu pada tahap terakhir
terjadi perubahan kecil dan tahap penyelesaian. Diperkirakan proses
tahap 1 sampai 4 terjadi dari tahun 750-an sampai tahun 850-an pada
masa dinasti Syailendra. Wow, lama juga ya pembangunannya butuh waktu
100 tahun!

2. Sir Thomas Raffles yang
pertama-kali mengenalkan Borobudur kepada dunia

Apakah Anda pernah mendengar nama Sir
Thomas Raffles? Dia adalah pria asal Inggris yang pernah menjadi
Gubernur Jenderal di Bencoolen yang sekarang bernama Bengkulu dan
yang memperkenalkan candi Borobudur kepada dunia. Awalnya, candi
Borobudur terkubur di dalam lapisan tanah dan vulkanik karena letusan
gunung vulkanik berabad-abad yang lalu.

Candi Borobudur ditemukan kembali pada
tahun 1814 pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Dia juga
mempopulerkan candi Borobudur lewat sebuah buku bernama ‘The
History of Java’ yang berisikan sejarah Jawa. Di buku itu pula,
Raffles mendeskripsikan candi Borobudur seperti gundukan besar yang
ada di tanah dan tertutup semak belukar.

Dalam buku ‘The History of Java’,
Raffles memberi nama candi megah itu dengan sebutan Bore Budur. Bore
adalah nama desa pada masa itu, dan Budur adalah Purba. Sedangkan ada
para ahli yang berpendapat bahwa Borobudur berasal dari istilah
Sambharabudhara yang mengandung arti gunung yang memiliki
teras-teras. Sedangkan menurut etimologi penduduk setempat, Borobudur
artinya ‘para-buddha’.

3. Candi Borobudur ditetapkan sebagai
Situs Warisan Dunia oleh UNESCO tahun 1991

Sekitar tahun 1900, pemerintahan Hindia
Belanda berusaha melestarikan Borobudur dengan memugar atau
membongkar dan memindahkannya ke tempat lain, karena pada saat itu,
pencurian artefak dan relik Borobudur sangat sering terjadi. Proses
tersebut terjadi pada tahun 1907 sampai 1911.

Namun pada tahun 1975 sampai 1982,
pemerintahan Indonesia bekerjasama dengan UNESCO merenovasi kembali
candi megah itu. Dan akhirnya pada tahun 1991, UNESCO menetapkan
candi Borobudur sebagai situs warisan dunia. Menurut UNESCO, candi
Borobudur sangat layak ditetapkan menjadi Situs Warisan Dunia. Salah
satu alasannya karena candi Borobudur merupakan mahakarya arsitektur
pada awal abad ke-8 hingga akhir abad ke-9. Wah, keren banget ya!

4. Sebagian relik Borobudur tersebar
di beberapa negara

Meskipun candi Borobudur terletak di
Magelang, Jawa Tengah, akan tetapi ada banyak relik dan replikanya
yang tersebar di beberapa negara seperti ‘Museum Nasional Bangkok’
di Thailand, ‘British Museum’ di London, dan ‘Tropen Museum’
di Amsterdam.

Ada beberapa alasan mengapa relik dan
artefak candi Borobudur tersebar di banyak negara. Saat masa kolonial
belanda, raja Thailand terpesona dengan keindahan candi tersebut,
sehingga pemerintahan kolonial memberikan oleh-oleh berupa potongan
relik sehingga dipajang di ‘Museum Nasional Bangkok’ hingga
sekarang. Sedangkan negara lainnya dapat mengoleksi relik Borobudur
akibat dari pemugaran dan pemindahan pada tahun 1900-an.

Kemudian ada juga museum yang mengoleksi
replika Borobudur seperti ‘Louvre Museum’ di Paris, ‘Museum
Agama Dunia’ di Taipei, dan ‘Museum Negara Malaysia’ di Kuala
Lumpur, Malaysia. Sedangkan di Indonesia, Anda dapat menemukan relik
dan artefak candi Borobudur pada ‘Museum Nasional Indonesia’ di
Jakarta dan ‘Museum Karmawibhangga’ di Magelang. Jika Anda sedang
libur, maka cobalah melihat artefak dan relik Borobudur di museum
lantai atas!

5. Stupa digunakan sebagai jam
matahari

Apakah Anda tahu stupa? Jika belum tahu,
akan kami jelaskan terlebih dahulu. Stupa adalah bangunan berbentuk
lonceng, setengah bulat, atau hanya gundukan. Sedangkan stupa di
Borobudur berbentuk mangkuk terbalik dengan tongkat di atasnya.

Pada candi Borobudur, umumnya ada 3
jenis stupa yaitu stupa induk, stupa teras, dan stupa kecil di tubuh
candi atau pagar langkan. Fungsi utama stupa adalah sebagai makam dan
menyimpan abu orang-orang yang meninggal. Namun sebuah penelitian
asal ITB (Institut Teknologi Bandung) menyatakan bahwa stupa utama
pada candi Borobudur berfungsi sebagai alat penanda waktu.

Stupa utama yang dimaksud adalah stupa
tertinggi yang berada di tingkat 10. Menurut hasil penelitian,
jatuhnya bayangan stupa utama pada tingkatan tertentu dapat
menandakan awal musim tertentu. Sehingga diduga stupa tersebut dapat
berfungsi sebagai kompas raksasa dan perhitungan musim. Namun
penelitian arkeoastronomi di Indonesia masih baru dan belum ditemukan
cara konkrit untuk menentukan waktu melalui stupa utama candi
Borobudur. Semoga segera ditemukan ya!

6. Borobudur sempat mengalami
kerusakan terparah akibat letusan Gunung Merapi

Fakta terakhir adalah candi Borobudur
pernah mengalami kerusakan terparah akibat letusan gunung Merapi pada
tahun 2010. Letusan tersebut menyebabkan candi Borobudur tertutup
debu vulkanik setebal 2,5 sentimeter. Sehingga membuat candi
bersejarah itu ditutup selama 5 hari dan dilakukan pembersihan.

UNESCO ternyata tidak
tinggal diam. Mereka menyumbang dana sebesar 3 juta USD
untuk membantu biaya rehabilitasi candi Borobudur. Proses
rehabilitasi ternyata tidak sebentar, butuh waktu sekitar 6 bulan
agar kondisi seluruh lingkungan candi Borobudur kembali normal.

Nah, itulah 6 fakta menarik tentang candi Borobudur. Apakah Anda mengetahui fakta-fakta lainnya yang belum kami sebutkan di atas?

By news