HIV, virus mematikan yang sudah muncul sejak ratusan tahun yang lalu, kini menggemparkan rakyat Indonesia, terutama warga Bandung. Kabarnya ada ratusan mahasiswa di Bandung yang positif HIV! Wah, tentu saja kabar tersebut menjadi sorotan banyak pihak. Lalu bagaimana sih fakta sebenarnya dari kabar mencengangkan tersebut? Yuk simak  selengkapnya di bawah ini.

1. Data Dikumpulkan Selama 30 Tahun

Menurut data KPA alias Komisi Penanggulangan AIDS di Kota Bandung, ada 5.943 warga kota Bandung yang mengakses layanan kesehatan terkait HIV/AIDS dan 6,97 persen atau 414 orang masih berstatus mahasiswa. Hal itu diperkuat oleh pernyataan Ketua Sekretaris KPA Kota Bandung, Sis Silvia Dewi. Dia menyatakan bahwa kasus HIV/AIDS di kota Bandung didominasi oleh masyarakat kelompok usia 20 sampai 29 tahun, yaitu sebanyak 44,84 persen.

Usut punya usut, ternyata jumlah yang tertera sebelumnya adalah akumulasi selama 30 tahun. Fakta ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Ira Dewi Jani. Dia menjelaskan bahwa data yang berasal dari KPA dikumpulkan selama 30 tahun.

“Memang betul persentase mahasiswa (yang terjangkit HIV/AIDS) 6,97 persen. Jadi kalau dihitung berarti kan 407 (mahasiswa di Kota Bandung yang mengidap HIV/AIDS). 407 itu adalah data yang kami kumpulkan selama 30 tahun, mulai dari tahun 1991 sampai 2021,” ungkap dr. Ira Dewi Jani. 

2. Data Bersifat Kumulatif

Dr. Ira Dewi Jani juga mengatakan bahwa data tersebut bersifat kumulatif, karena penderita akan terus tercatat hingga meninggal dunia. Berbeda dengan kasus lain seperti Covid-19 yang dapat dinyatakan sembuh sehingga tidak tercatat lagi. Karena pasien HIV/AIDS tidak bisa dibilang sembuh sepenuhnya, tidak seperti Covid-19.

“Kalau Covid, kita yang terdiagnosis kan 10-14 hari kemudian sembuh sudah tidak dicatat lagi. Kalau untuk kasus HIV/AIDS, sekali terdiagnosis terus terdiagnosis sampai pasien meninggal, karena kalau HIV tidak bisa dibilang sembuh seperti Covid tapi tetap bisa ter-manage dengan baik,” pungkas dr. Ira Dewi Jani. 

Sementara itu, Dr. Ira Dewi Jani juga menambahkan, “Obatnya ada makanya bisa ter-manage dengan baik. Cuma angkanya tidak bisa keluar kecuali hingga pengidapnya meninggal dunia, makanya angkanya kumulatif. Begitu, saya mau meluruskan.”

3. Banyak yang Menyepelekan HIV/AIDS

Tampaknya pemberitaan 414 mahasiswa di Kota Bandung yang mengidap HIV/AIDS menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk psikolog pendidikan sekaligus influencer, Indah Sundari Jayanti, MPsi. 

Indah memberikan opini mencengangkan tentang fakta tersebut. Wanita bergelar Magister Psikologi itu menyebutkan tentang minimnya edukasi tentang keamanan berhubungan seksual. Bahkan dia menyorot kalau kalangan mahasiswa harusnya sudah memiliki pengetahuan yang matang tentang bahaya HIV/AIDS dan cara pencegahannya, namun dia menganggap masih banyak yang menyepelekannya. 

“Sebenarnya kalau bicara HIV ini, salah satu hal yang menjadi penyebab kan adanya hubungan seksual yang mungkin memang tidak sehat atau tidak aman, bergonta-ganti pasangan juga. Artinya di sini sebenarnya yang kita fokuskan bukan hanya masalah hubungan seksualnya saja, tapi edukasi terkait keamanan berhubungan seksual,” ungkap Indah.

Indah Sundari juga menambahkan, “Bahwa memang ternyata orang-orang yang ternyata sudah menjadi mahasiswa yang secara edukasi idealnya harus sudah lebih tahu, ternyata masih banyak juga yang menyepelekan tentang pentingnya menjaga diri kita supaya bisa melakukan hubungan seksual secara aman.”

4. Minim Pola Pikir Jangka Panjang

Lebih jauh lagi, Indah Sundari Jayanti, MPsi menambahkan bahwa fakta angka pengidap HIV/AIDS dari kalangan mahasiswa membuktikan bahwa ternyata cukup banyak anak muda yang minim pola pikir jangka panjang. Selain itu, dia juga berpendapat bahwa masih banyak juga yang tidak menganggap penting norma masyarakat tentang hubungan seksual di luar pernikahan.

Dalam media berita, Indah mengatakan, “(414 mahasiswa positif HIV) menunjukkan segitu kecilnya awareness tentang mementingkan kesehatan. Mereka nggak berpikir ke depan bahwa apa yang dilakukan sekarang sangat mempengaruhi kehidupan mereka nanti yang akan datang. Belum lagi kalau nanti mereka menikah dan punya keturunan, ada potensi tertular juga jadinya anaknya. Jadi pola pikir ke depan yang kurang dipertimbangkan yang menjadi concern kita.”

5. Sejarah dan Gejala Awal HIV/AIDS

Ternyata HIV/AIDS memiliki sejarah yang cukup panjang, yaitu bermula dari tahun 1800-an. Menurut studi yang dilakukan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, kemungkinan virus HIV menular dari simpanse ke manusia di daerah Kinshasa, Republik Demokratik Kongo. Diyakini bahwa penularan dari simpanse ke manusia terjadi karena ada yang mengonsumsi daging simpanse yang terinfeksi HIV. 

Sehingga penyebaran HIV/AIDS dari manusia ke manusia lain terjadi cukup cepat dengan beberapa cara, contohnya seks bebas tanpa pengaman, berbagi jarum suntik, transfusi darah, hingga ASI. Sehingga cara pencegahannya adalah dengan tidak berganti-ganti pasangan, menggunakan pengaman saat berhubungan seks, rutin cek kesehatan diri dan pasangan terutama dari HIV/AIDS, dan menghindari narkoba.

Lalu tahukah Anda kalau HIV memiliki gejala awal yang ringan dan tidak khas? Ya, gejala awal HIV mirip seperti gejala virus-virus lainnya, yaitu demam, nyeri otot, flu, dan mudah lelah. Namun saat memasuki fase kedua, semua gejala menghilang dan penderita tidak merasakan gejala apapun. Fase kedua terjadi selama kurun waktu 5-10 tahun. 

Sedangkan pada fase ketiga, HIV berkembang menjadi AIDS, gejala-gejala yang terjadi menjadi sangat mematikan yaitu, sesak napas, demam panjang, nyeri tenggorokan, diare kronis, hingga rentan terkena penyakit kronis.

6. Selebriti Dunia yang Terinfeksi HIV/AIDS

HIV/AIDS menyerang berbagai kalangan, termasuk para selebriti dunia. Salah satu superstar dunia yang berjuang melawan HIV/AIDS hingga tutup usia adalah Freddie Mercury. Dia memberi pernyataan mengejutkan bahwa dia mengidap AIDS. Terungkap bahwa hubungan sesama jenis menjadi salah satu penyebab mengapa dia bisa tertular HIV/AIDS. Dia tutup usia pada 24 November 1991 di usia 45 tahun.

Selain itu, ada sederet selebriti dunia yang juga berjuang melawan HIV/AIDS seperti Gia Carangi, Charlie Sheen, Jonathan Van Ness, Billy Porter, dan aktor lawas Rock Hudson. Sedangkan di Indonesia ada artis senior Didi Mirhad.

Nah itulah fakta seputar sebaran HIV/AIDS di Kota Bandung. Semoga penyebaran HIV/AIDS di Indonesia dan dunia semakin sedikit ya. Lalu bagaimana pendapat Anda tentang berita di atas? Jangan lupa beri tahu kami di kolom komentar ya!

By news