Oktober 2022 tampaknya menjadi bulan duka bagi Indonesia. Pasalnya pada tanggal 1 Oktober terjadi tragedi yang mengerikan dalam pertandingan sepak bola antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Dalam pertandingan yang diadakan di stadion Kanjuruhan Malang, Arema FC kalah dengan skor 2 dan 3 dari Persebaya. Kekalahan Arema FC menimbulkan kerusuhan saat pertandingan baru saja berakhir! 

Kerusuhan bukan terjadi antara pendukung Persebaya dengan Arema FC, melainkan antara kepolisian dengan para penonton! Akibatnya, tercatat ada sekitar 134 korban yang meninggal karena terinjak-injak dan mengalami asfiksia akibat gas air mata yang ditembakkan pihak polisi. Tragedi Kanjuruhan itu menjadi salah satu tragedi terparah dalam beberapa dekade terakhir di indonesia. 

Apa yang terjadi dalam kerusuhan tersebut hingga menelan korban jiwa sangat banyak? Siapa yang memulai kerusuhan? Yuk kita simak fakta penting di balik tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan! 

1. Bermula dari Turunnya Penonton ke Lapangan

Saat melakukan pengusutan tragedi Kanjuruhan, Komnas HAM menemukan beberapa poin penting. Yang pertama adalah tentang awal mula kerusuhan terjadi. Berdasarkan pengakuan korban selamat, Komnas HAM menyatakan bahwa para pendukung Arema FC masuk ke lapangan untuk menyemangati para pemain, bukan untuk membuat keributan.

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam menyatakan, “Pemain Arema kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh Aremania–jadi memang ini ada tradisi begitu–yang berada di stadion Kanjuruhan Malang. Selanjutnya ketika pada saat pemain Arema menuju ruang ganti, sejumlah Aremania menghampiri pemain dan memeluk pemain dengan tujuan memberikan semangat.”

2. Gas Air Mata Picu Banyak Korban

Choirul Anam juga menyatakan bahwa gas air mata yang ditembakkan ke arah tribun membuat banyak korban berjatuhan. Hal itu terbukti dari video amatir milik korban yang telah meninggal dunia dalam tragedi mengenaskan tersebut. Faktanya, gas air mata yang ditembakkan ke arah tribun membuat penonton sesak napas, panik, hingga bergegas lari ke luar stadion. 

Sementara itu, Komnas HAM juga menemukan fakta bahwa pintu stadion Kanjuruhan ternyata hanya terbuka sedikit saja. Alhasil, banyak penonton yang terinjak-injak, sesak napas, mata perih, hingga meninggal dunia saat pergi ke luar stadion. 

Padahal, FIFA sudah melarang penggunaan gas air mata dalam pertandingan sepak bola karena dapat berdampak buruk terhadap kesehatan korban seperti terkena gangguan pernapasan, penglihatan, bahkan semakin mudah tertular penyakit pernapasan seperti Covid-19. Selain itu, penggunaan gas air mata ditakutkan akan membuat penonton berusaha untuk menghindari gas air mata sehingga menyebabkan insiden berdesakan dan terinjak-injak. 

3. Rekaman CCTV Hilang Selama 3 jam

Dalam melakukan penyelidikan, pemerintah telah membentuk tim khusus untuk mengusut fakta-fakta penting dibalik terjadinya tragedi Kanjuruhan. Tim tersebut bernama Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dipimpin oleh Mahfud MD selaku Menko Polhukam RI. Selain itu, TGIPF beranggotakan tokoh-tokoh penting di Indonesia seperti rektor, pengamat olahraga, jurnalis, mantan pengurus PSSI, hingga mantan pemain tim nasional sepak bola. 

Salah satu temuan menarik dari TGIPF adalah adanya rekaman CCTV yang hilang atau terhapus selama 3 jam 21 menit 54 detik karena alasan gangguan internet. TGIPF juga menyebutkan ada rekaman CCTV yang dilarang diunduh oleh aparat kepolisian. Hilangnya rekaman tersebut otomatis menyusahkan proses investigasi TGIPF dalam mengusut fakta yang terjadi saat tragedi berlangsung.

“Hilangnya durasi rekaman CCTV menyulitkan atau menghambat tugas tim TGIPF untuk mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi dan sedang diupayakan untuk meminta rekaman lengkap ke Mabes Polri,” lapor TGIPF kepada Presiden Jokowi. Tim penyidik independen itu juga masih berupaya untuk meminta rekaman lengkap CCTV ke pihak kepolisian.

4. Korban Tewas Mencapai 134 Orang

Berdasarkan berita terbaru tanggal 21 Oktober 2022 silam, korban tewas tragedi Kanjuruhan bertambah yang awalnya 133 menjadi 134 orang. Korban meninggal terakhir, Reyvano Dwi Afriansyah yang masih berusia 17 tahun meninggal dunia setelah dirawat intensif selama 18 hari di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), Kota Malang. Reyvano meninggal karena mengalami cedera otak berat, pembengkakan otak, patah tulang selangka, keracunan, dan gagal ginjal akut.

Selain itu, korban meninggal dunia kebanyakan terdiri dari rentang usia 12 – 24 tahun, dan korban paling muda berusia 4 tahun. Untuk mengetahui daftar nama korban meninggal, Anda dapat melihatnya pada data Posko Postmortem Crisis Center. 

5. Polisi Telah Menetapkan 6 Tersangka

Hingga saat ini, polisi telah menetapkan 6 tersangka pada kejadian kerusuhan di stadion Kanjuruhan yang menelan korban hingga 134 orang. Enam tersangka itu adalah AHL selaku Direktur PT Liga Indonesia Baru, AH selaku ketua Panpel Arema FC, SS selaku security officer Arema FC, WS selaku Kabag Ops Polres Malang, HD selaku Danki 3 Yon Brimob Polda Jatim, dan BS selaku Kasat Samapta Polres Malang.

Sementara itu, polisi juga menyebutkan bahwa akan ada kemungkinan penambahan tersangka. Namun hingga sekarang, seluruh tersangka tersebut belum ditahan karena proses penyelidikan belum tuntas. Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menjelaskan kepada wartawan, “Jadi gini, rekan-rekan, karena semua ini masih berproses. Biar proses ini selesai dulu. Apabila proses penyidikan ini selesai dulu, baru penyidik nanti akan mengambil langkah-langkah berikutnya.”

6. FIFA Akan Bentuk Tim Khusus Di Indonesia

Setelah kejadian tragis di Stadion Kanjuruhan, terdengar gosip bahwa FIFA akan menjatuhkan hukuman pada PSSI. Namun telah dipastikan bahwa Indonesia terbebas dari hukuman FIFA. Bahkan kabarnya, FIFA mengirim timnya berkantor di Indonesia untuk membenahi sepak bola di Indonesia. 

“FIFA bersama-sama dengan pemerintah akan membentuk tim transformasi sepak bola Indonesia dan FIFA akan berkantor di Indonesia selama proses-proses tersebut. Berdasarkan surat tersebut, Alhamdulillah sepakbola Indonesia tidak dikenakan sanksi oleh FIFA,” jelas Jokowi dalam konferensi pers baru-baru ini. 

Yang membuat publik heran, nama PSSI tidak terucap dalam pernyataan Presiden Indonesia. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa pernyataan Jokowi merupakan tamparan bagi PSSI karena lalai dalam menangani kerusuhan di Stadion Kanjuruhan. Bagaimana pendapat Anda?

7. Dunia Beri Ucapan Duka

Menanggapi tragedi Kanjuruhan, beberapa selebriti dan klub sepak bola dunia memberi ucapan belasungkawa. Seperti contohnya Lee Min Ho yang menuliskan ucapan duka melalui akun Instagram pribadinya bertuliskan, “Pray for Indonesia Kanjuruhan (Berdoa untuk Indonesia Kanjuruhan).”

Selain itu, klub sepak bola besar seperti Manchester United, Liverpool FC, Arsenal, dan Barcelona juga turut mengucapkan kalimat belasungkawa untuk tragedi Kanjuruhan. Bahkan  hingga pemain sepak bola terkenal seperti Sergio Ramos juga memberi kalimat dukungan untuk korban dan keluarga korban meninggal akibat tragedi Kanjuruhan. 

Kami juga turut berduka cita atas tragedi yang menimpa Tanah Air hingga menelan 134 korban meninggal dunia dan ratusan korban luka-luka. Semoga proses investigasi berjalan lancar dan cabang olahraga sepak bola di Indonesia semakin tertib, aman, dan kondusif sehingga tidak akan terjadi lagi tragedi selanjutnya yang menelan korban jiwa!

By news